Sunday, April 17, 2005

The Funny Paper

Orang cenderung memandang sebelah mata terhadap jenis bacaan: komik. Padahal media ini, kataku, sama saja dengan jenis media 'hiburan' lain, seperti buku novel misalnya. Bedanya, cuma, jumlah gambarnya lebih (hehe). Padahal gambar, sebagai salah satu bentuk komunikasi selain tulisan dan suara, adalah bentuk komunikasi yang paling tinggi. Seperti kata Confusius: "I hear and I forget, I see and I remember, I do and I understand." (huehehe, Jaka Sembung Jack)

Alasan lain mungkin karena tipikal materi komik umumnya didominasi materi kanak-kanak. Nggak salah sih, walaupun padahal nggak sepenuhnya betul juga. Di ceruk-ceruk tertentu sudah banyak materi-materi komik yang tampil lebih 'dewasa'. Teknik bertutur dalam komik juga sudah mirip dengan teknik narasi di literatur sastra. Mereka sudah ada yang memakai irony, foreshadowing, dan symbolism. Bahkan untuk itu mereka punya dua alat: teks dan gambar.

Hehe, mungkin sudah cukup mengayun-ayunkan kapak perangnya. Sebetulnya cuma mau memperkenalkan tiga nama berikut. Mereka adalah para penulis yang, menurutku, adalah tiga dewa di dunia komik.
  1. Frank Miller. Dia yang pertama kali menunjukkan bahwa komik (saat itu) sudah dewasa. Baca "Batman Year One" seperti nonton episode "NYPD Blue" di TV. cara penuturannya cenderung noir, sang tokoh bergumam lewat running-text. Dan gumamannya biasanya puitis.
  2. Neil Gaiman. Aslinya novelis. Diksi yang dipakai cenderung seperti bahasa Inggris lama, seperti buku-buku literatur kuno, yang berbau puitis juga. Cerita-ceritanyanya kental dengan warna folklore dan fairy tale. Dia tuangkan dalam serial "Sandman": Komik absurd-surealis multireferensi yang anehnya -menyentuh.
  3. Alan Moore. Penulis komik tulen, membaca komiknya adalah berusaha menikmati berbagai tingkat lapisan informasi yang disajikan melalui cerita dan gambar. Perlu beberapa kali ulangan untuk menangkap 'seni' yang ada di dalamnya. Bercerita tentang Rorsach Symetrism, tanpa disadari seluruh panel dalam bukunya membentuk simetri. He did it in "Watchmen".
Yup, cuma tiga itu. Kenapa mereka bertiga? Karena mereka bisa bersanjak, baik melalui lirik maupun dengan gambar. Mereka terhitung pelopor, mungkin sekarang sudah banyak yang lain. Tapi untukku, cukup yang tiga itu. Solid.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home